Burung Merak di Agra, Burung Pipit Di Pasar Ahad

Kearifan lokal manusia untuk menjaga sumberdaya alam, apapun bentuknya, bisa karena sebab mitologi, karena tabu, pamali dan lain sebagainya, memunculkan beragam hasil, namun kok akhir-akhir semakin memprihatinkan.

Di hutan pedalaman Kalimantan yang kini sebagian besar tinggal menyisakan lahan gundul atau lahan sawit akibat banyak kayu sudah di tebang, masih saja ada satu jenis pohon yang tersisa dan perambah hutan hampir pasti tidak berani memotong, yaitu pohon madu, dimana pada satu jenis pohon ini lebah hutan biasanya akan bergantung untuk membuat sarang dan menghasilkan madu hutan.Setahuku, tidak ada yang berani menebang pohon ini. Ada kearifan lokal di situ, dan semua bisa menjaga alam, meskipun alasannya berbalut cerita mistis dan lain sebagainya.

Lantas minggu pagi ini, aku sempat jalan-jalan ke pasar ahad, di bilangan Pal 7 Banjarmasin, namun hari ini aku agak shock, karena ulah pedagang burung emprit. Ya, burung pipit, yang biasa terbang bergerombol di lahan padi itu, sudah sejak lama ternyata diperjual belikan di pasar. Ditangkap dengan jala, dijual per ekor dua ribu limaratus rupiah, sepuluh ribu sepasang dengan sangkar kecil. Hanya untuk mainan anak-anak. Betul-betul prihatin. Sebegitu susahnya cari uang di negeri ini ? Apa manfaat burung emprit untuk lingkungan, gak usah diperdebatkan. Hanya burung pipit yang dulu tak bernilai rupiah sama sekali, kini di buru untuk sesuap nasi.

Ingatan saya lantas terlompat ke novel “Para Priyayi” Umar Kayam, di novel itu di ceritakan bahwa pada tahun 30-an di sekitar pedesaan Jawa Timur, masih sering kelihatan awan gelap berterbangan, yang ternyata bukan awan betulan, tapi segerombolan burung betet terbang. Ya, betet atau burung parkit hijau itu. Bisa terbang bergerombol bak awan. Sekarang ke mana kawanan burung itu? Saya terakhir melihat kawanan betet dalam jumlah lumayan, berterbangan di sela lahan durian di pinggiran kota Nunukan tahun 2004. Di Pulau Jawa bahkan belum pernah melihat di alam liar. Habis di jadikan rupiah pulakah?

Lantas ingatan saya terlempar lagi di sepanjang jalan di kota suci Mekah dan Madinah, di sana banyak merpati liar, ribuan jumlahya. Rekan sesama perjalanan banyak yang berkomentar, di Indonesia, merpati ini akan jadi burung dara goreng. Mungkin penduduk Mekah dan Medinah lebih takut pada larangan membunuh binatang di tanah haram, atau sebab lain, karena mereka memang mampu beli daging onta atau sapi. Pasalnya, kisahnya Maryam kan juga sempat membuat dendeng burung saat pertama di tinggalkan di dekat Zam- zam.

Tapi yang lebih menakjubkan, India. Sepanjang perjalanan di padang Agra, antara Delhi – Agra, di kiri kanan jalan, banyak aku lihat banyak burung merak liar, bulunya indah bermekaran, berkokok seperti ayam jangan di pagar bebatuan. Puluhan jumlahnya. Sekali lagi, teman seperjalanan ada yang komentar, kalau di Indonesia, merak- merak itu akan habis dibawa masuk ke halaman rumah, di pelihara atau di makan dagingnya. Sangat tidak mungkn merak liar berjumlah banyak seperti itu ada di negeri kita bisa hidup aman tenteram sejahtera.

Di taman seputar Taj Mahal juga, burung betet lusinan jumlahnya, bersarang beranak pinak di pohon perindang seputar taman, aman- aman saja. Padahal di India, bukankah lebih banyak manusia yang perlu makan daripada di tempat kita ? Bukankah kaum papa di sana amat mudah membidik merak atau betet atau merpati ?

Lantas pagi ini teman ada yang bikin status makan daging Rusa, di hotel berbintang pula. Yang lain, bikin status sedang memancing di pulau impian yang tidak setiap orang mampu ke sana, ee kok sambil menyantap telur penyu. Waduh, kawan, kalian kan mampu beli daging tenderloin yang super empuk itu, apalagi sekedar telur ayam. Kawan, kalian kan bukan penjual emprit di pasar yang dijerat kemiskinan, rakus nian kalian.. Baca juga, bercerita tentang Indonesia jaya. 😀

Terima kasih banyak kepada Mas Haris Setyawan yang telah menulis dan mengirim cerita ini.

M. Fadhly

Hanya seorang yang gemar berbagi apa yang diketahui. Jangan lupa follow Twitter saya di @MF4dhli

Leave a Reply

Your email address will not be published.